Rabu, 31 Juli 2019


      


.     A. PENGERTIAN MANAJEMEN KELAS
            Secara terminologi, manajemen kelas berasal dari dua kata, yaitu: manajemen dan kelas, yang berarti pengaturan ruang kelas. Sementara itu menurut istilah, Syaiful Bahri Djamarah mendefinisikan manajemen Kelas sebagai suatu upaya memberdayakan potensi kelas yang ada seoptimal mungkin untuk mendukung proses interaksi edukatif mencapai tujuan pembelajaran.
            Selain itu, menurut Jamil Suprihatiningrum, manajemen Kelas adalah upaya yang dilakukan pendidik untuk mewujudkan atmosfer pembelajaran yang optimal.
            Kegiatan guru didalam kelas meliputi 2 hal pokok yakni: mengajar dan mengelola kelas, kegiatan mengajar dimaksudkan secara langsung untuk menggiatkan siswa untuk mencapai tujuan seperti menelaah kebutuhan siswa, menyusun rencana pembelajaran, menyajikan bahan pelajaran, mengajukan pertanyaan kepada siswa, memberi penilaian kepada siswa mengenai kemajuannya adalah contoh-contoh dari kegiatan mengajar. Sedangkan mengelola kelas diharapkan agar menciptakan dan mempertahankan suasana pelajaran menjadi efektif dan efisien.
            Efektivitas dan efesiensi harus sejak awal ditetapkan agar dapat diketahui dampaknya sejak dini terhadap pencapaian tujuan pendidikan pada umumnya. Dengan demikian, sejak awal dapat diperbaiki kelemahan-kelemahan atau kekurangannya. Membahas tentang alasan-alasan penyebab perilaku negatif siswa yang sering kita lihat terjadi didalam kelas.  Apapun alasan penyebabnya adalah bagaimana perilaku mengajar dan pemahaman kita mengenai disiplin dalam membangun tindakan pencegahan.  Seorang pengajar memberikan pilihan, meminta masukan atau pendapat siswa  khususnya pada area-area yang biasa membuat siswa menantang dan melawan hal tersebut tampaknya sepele namun sangat menentukan.
            Manajemen dari kata “ Management “. Diterjemahkan pula menjadi pengelolaan, berarti proses penggunaan sumber daya secara efektif untuk mencapai sasaran. Sedangkan pengelolaan adalah proses yang memberikan pengawasan pada semua hal yang terlibat dalam pelaksanaan dan pencapaian tujuan. Maksud manajemen kelas adalah mengacu kepada penciptaan suasana atau kondisi kelas yang memungkinkan siswa dalam kelas tersebut dapat belajar dengan efektif.
            Terdapat beberapa defenisi tentang manajemen kelas berikut ini:
1.      Berdasarkan Konsepsi Lama Dan Modern
      Menurut konsepsi lama, manajemen kelas diartikan sebagai upaya mempertahankan ketertiban kelas. Menurut konsepsi modern manajemen kelas adalah proses seleksi yang menggunakan alat yang tetap terhadap problem dan situasi manajemen kelas.

2.      Berdasarkan Pandangan Pendekatan Operasional Tertentu
a.    Seperangkat kegiatan guru untuk menciptakan dan mempertahankan ketertiban suasana kelas melalui penggunaan disiplin (Pendekatan Otoriter).
b.   Seperangkat kegiatan guru untuk menciptakan dan mempertahankan ketertiban suasana kelas melalui intimidasi (Pendekatan Intimidasi).
c.  Seperangkat kegiatan guru untuk memaksimalkan kebebasan siswa (Pendekatan Permisif).
d. Seperangkat kegiatan guru menciptakan suasana kelas dengan cara mengikuti petunjuk/resep yang telah disajikan (Pendekatan Masak).
e.   Seperangkat kegiataan guru untuk menciptakan suasana kelas yang efektif melalui perencanaan pembelajaran yang bermutu dan dilaksanakan dengan baik (Pendekatan Instruksional).
f.   Seperangkat kegiatan guru untuk mengembangkan tingkah laku peserta didik yang diinginkan dengan mengurangi tingkah laku yang tidak diinginkan (Pendekatan Pengubahan Tingkah Laku).
g.      Seperangkat kegiatan guru untuk mengembangkan hubungan interpersional yang baik dan iklim sosio-emosional kelas yang positif (Pendekatan Penciptaan Iklim Sosioemosional).
h.     Seperangkat kegiatan guru untuk menumbuhkan dan mempertahankan organisasi kelas yang efektif (Pendekatan Sistem Sosial).


B.   TUJUAN MANAJEMEN KELAS
            Suharsimi Arikunto (2004), berpendapat bahwa tujuan manajemen kelas adalah agar setiap anak di kelas dapat belajar dengan tertib sehingga tujuan pengajaran dapat tercapai secara efektif dan efisien. Untuk lebih jelasnya Arikunto menjelaskan rincian tujuan manajemen kelas, seperti berikut ini :
a.   Mewujudkan situasi dan kondisi kelas, bai sebagai lingkungan belajar maupun sebagai kelompok belajar, yang memungkinkan peserta didik untuk mengembangkan kemampuan semaksimal mungkin.
b. Menghilangkan berbagai hambatan yang dapat menghalangi terwujudnya interaksi pembelajaran.
c. Menyediakan dan mengatur fasilitas serta perabot belajar yang mendukung dan memungkinkan siswa belajar sesuai dengan lingkungan social, emosional dan intelektual siswa dalam kelas.
d.   Membina dan membimbing siswa sesuai dengan latar belakang sosial, ekonomi, budaya serta sifat-sifat individunya.

      C. PROSES MANAJEMEN KELAS
Proses Manajemen Kelas
1.      Merumuskan Kondisi Kelas Yang di Kehendaki
      Manajemen kelas adalah proses yang bertujuan, yaitu guru menggunakan berbagai strategi manajerial untuk mencapai tujuan yang telah di rumuskan dan di identifikasi dengan baik. Oleh karena itu, tahap pertama yang harus dilakukanguru ialah merumuskan spesifikasi kondisi kelas yang dikehendaki, sebagai suatu kondisi ideal. Untuk itu seorang guru perlu memiliki konsep yang jelas tentang kondisi.

2.      Menganalisis Kondisi Kelas Yang Ada Pada Saat Ini
      Kondisi kelas aktual adalah kondisi pada saat ini. Analisis kondisi kelas pada saat ini penting dilakukan untuk dibandingkan dengan kondisi ideal yang telah dirumuskan pada tahap satu.

      Analisis macam ini akan membantu guru untuk mengidentifikasi hal-hal berikut:
a.       Kesenjangan antara kondisi nyata dengan kondisi ideal, dan menetapkan hal-hal yang segera memerlukan perhatian.
b.      Masalah-masalah potensial yang bisa muncul sekiranya guru tidak berhasil mencegahnya.
c.       Kondisi nyata yang perlu dipelihara, ditingkatan, dan dipertahankan karena merupakan kondisi yang dikehendaki.

3.      Memilih dan Mneggunakan Strategi Manajerial
      Setelah mengidentifikasi kesenjangan kondisi aktual dengan kondisi deal yang dirumuskan dalam masalah manajerial, langkah berikut adalah memilih dan menggunakan strategi yang akan dilakukan untuk menjembatani kesenjangan tersebut atau memecahkan masalah, mencegah timbulnya masalah, dan memelihara kondisi positif yang telah terjadi. Guru dapat memilih lebih dari satu pendekatan manajerial di dalam mengembangkan kondisi kelas yang mendukung proses pembelajaran yang efektif.

4.      Menilai Efektivitas Manajerial
      Pada tahap keempat ini guru bernilai upayanya sendiri. Sampai dimana upaya yang dilakukan itu dalam mengembangkan dan memelihara kondisi yang dikehendaki, serta sampai dimana upaya itu dapat mempersempit kesenjangan antara kondisi aktual dengan kondisi ideal. Penilaian ini difokuskan kepada dua perangkat perilaku, yaitu perilaku guru dan perilaku peserta didik. Dalam hal pertama guru menilai sampai dimana perilaku dan strategi manajerial yang digunakan dapat menumbuhkan kondisi yang dikehendaki. Dan dalam hal kedua, guru menilai sampai dimana para peserta didik berperilaku sesuai dengan cara-cara dikehendaki. Untuk keprluan penilaian yang dimaksud, data dapat dikumpulkan dan dari tiga sumber, yaitu guru, peserta didik, dan pengamat luar.

D.    STRATEGI MANAJEMEN KELAS YANG EFEKTIF
Mengelola kelas terbagi menjadi 2 jenis keterampilan :
1.      Keterampilan yang berhubungan dengan penciptaan dan pemeliharaan kondisi belajar yang optimal.
a.       Menunjukkan Sikap Tangkap
            Menggambarkan tingkah laku guryu yang tampak pada siswa, bahwa guru sadar dan tanggap terhadap perhatian keterlibatan, masalah dan ketidak acuan mereka. Dengan adanya sikap ini siswa merasa guru hadir ditengah mereka. Kesan ketanggapan ini dengan cara :
1)      Memandang Secara Saksama
      Memungkinkan guru meliput keterlibatan siswa dalam tugas dikelas serta menunjukkan kesiapan guru untuk memberi respon baik terhadap kelompok maupun individu.
2)      Memberikan Pernyataan
      Hal ini terkomunikasi kepada siswa melalui pernyataan guru bahwa ia telah siap untuk memulai kegiatan belajar serta siap memberi respon terhadap kebutuhan siswa. Hal yang harus dihindari adalah menunjukkan dominasi guru dengan pernyataan atau komentar yang mengandung ancaman.
Contoh : “Saya menunggu sampai kalian diam”.
3)      Gerak Mendekati
      Hal ini menunjukkan kesiapan, minat dan perhatian kepada siswa. Hal ini membantu siswa yang menghadapi kesulitan belajar, mengalami frustasi atau sedang marah. Gerak yang mendekati hendaknya dilakukan dengan wajar, bukan menakuti atau maksud lain.
4)      Memberikan Reaksi Terhadap Gangguan Dan Ketakacuan Siswa
      Dengan adanya teguran menandakan adanya guru bersama siswa. Teguran harus diberikan pada saat yang tepat serta dialamatkan pada sasaran yang tepat.

b.      Membagi Perhatian
            Pengelolaan kelas yang efektif terjadi apabila guru membagi perhatian kepada beberapa kegiatan yang berlangsung dalam waktu yang sama. Hal ini dapat dilaksanakan dengan cara sebagai berikut :


1)      Visual
      Hal ini mennjukkan perhatian terhadap sekelompok siswa atau individu namun tidak kehilangan keterlibatannya dengan kelompok siswa atau individu.
      Keterampilan ini digunakan untuk memonitor kegiatan kelompok atau individu, mengadakan koreksi kegiatan siswa, memberi komentar atau memberi reaksi terhadap siswa yang mengganggu.
2)      Verbal
      Guru dapat memberikan komentar terhadap aktivitas seseorang yang dilihat atau dilaporkan oleh siswa lain. Penggunaan teknik visual maupun verbal menunjukkan bahwa guru menguasai kelas.
3)      Memusatkan Perhatian
      Keterlibatan siswa dalam KBM dapat dipertahankan apabila dari waktu kewaktu guru mampu memusatkan kelompok terhadap tugas-tugas yang dilaksanakan. Hal ini dengan cara:
a.       Menyiagakan Siswa
            Menciptakaan suasana yang menarik sebelum guru menyampaikan pertanyaan atau topik pelajarannya. Misalnya: “coba anak-anak, semuanya memperhatikan dengan teliti gambar ini untuk membedakan daerah mana yang subur dan daerah mana yang tanahnya gersang.
b.      Menuntut Tanggung Jawab Siswa
            Komunikasi yang jelas dari guru mengenai tugas siswa merupakan hal yang sangat penting dalam mempertahankan pusat perhatian siswa seperti: meminta untuk diperagakan hasil pekerjaan tugas.

c.       Memberikan Petunjuk yang Jelas
            Petunjuk yang diberikan harus bersifat langsung, dengan bahasa yang jelas dan tidak membingungkan serta dengan tuntutan yang wajar dapat dipenuhi oleh siswa.
d.      Menegur
            Tidak semua tingkah laku yang mengganggukelompok, siswa dalam kelas dapat dicegah atau dihindari dengan baik, sehingga guru harus melakukan teguran secara verbal atau memperingatkan siswa. Teguran itu efektif jika:
1)      Tegas dan jelas tertuju kepada siswa yang mengganggu.
2)      Menghindari peringatan yang kasar dan menyakitkn serta  mengandung penghinaan.
3)      Menghindari ocehan atau ejekan guru atau yang berkepanjangan.
4)      Guru dan siswa lebih baik mengadakan kesepakatan sehingga penyimpangan yang terjadi hanya sifatnya mengingatkan. Seperti: “suharto ingat”

e.       Memberi Penguatan
            Komponen ini digunakan untuk mengatasi siswa yang tidak mau terlibat dalam kegiatan pembelajaran atau mengganggu temannya, yaitu dengan cara:
1)      Guru dapat memberikan penguatan kepada siswa yang menggaggu yaitu dengan jalan “menangkapnya” ketika dia melakukan tingkah laku yang wajar dan berusaha “menangkapnya” ketika dia melakukan tingkah yang tidak wajar dan berusaha “menangkapnya” ketika dia melakukan tindakan yang tidak wajar dengan tujuan perbuatan yang wajar tadi dapat terulang.
2)      Guru dapat memberikan berbagai komponen penguatan kepada siswa yang bertingkah laku yang wajar kepada siswa yang lain untuk menjadi teladan.


2.      Ketrampilan Yang Berhubungan Dengan Kondisi Belajar Optimal Setelah  Mendapat Gangguan
      Ketrampilan ini berhubungan dengan tanggapan guru terhadap gangguan anak didik yang berkelanjutan dengan maksud guru dapat mengadakan-tindakan remedial untuk mengembalikan tindakan optimal.
      Apabila terdapat anak didik yang menimbulkan gangguan yang berulang-ulang walaupun guru telah mencoba memadamkan dengan tanggapan yang relevan tetap saja terjadi kembali, guru dapat meminta bantuan:
a.       Kepala Sekolah
b.      Konselor/BP
c.       Waka kesiswaan untuk membantu mengatasinya.

Bukanlah kesalahan profesional guru apabila tidak dapat menangani permasalahan anak didik dalam kelas berkenaan dengan itu guru dapat menggunakan seperangkat strategi untuk tindakan perbaikan terhadap tingkah anak didik yang terus menerus menimbulkan gangguan dan yang tidak mau terlibat dalam kegiatan di kelas.




Strategi yang efektif dan harus diperhatikan saat pengelolaan kelas:
1.      Memulai pelajaran tepat waktu
            Menata tempat duduk yang tepat dengan cara menyelaraskan antar format dan tujuan pengajaran, misalnya untuk pengajaran dengan menggunakan model diskusi, bangku siswa dibentuk setengah lingkaran.
2.      Mengatasi gangguan dari luar kelas
3.      Menetapkan aturan dan prosedur dengan jelas dan dapat dilaksanakan dengan konsisten
4.      Peralihan yang mulus antarsegmen pelajaran
5.      Siswa yang berbicara pada saat proses belajar mengajar berlangsung
6.      Pemberian pekerjaan rumah
7.      Mempertahankan momentum selama pelajaran
8.      Downtime, kelebihan waktu yang dimiliki oleh siswa pada saat melakukan tugas-tugas dalam proses belajar mengajar
9.      Mengakhiri pelajaran

Selain cara di atas, strategi pengelolan kelas yang efektif juga dapat dilakukan dengan beberapa teknik:
1.      Teknik mendekati
            Bila seorang siswa mulai bertingkah, satu teknik yang biasanya efektif yaitu teknik mendekatinya. Kehadiran guru bisa membuatnya takut, dan karena itu dapat menghentikannya dari perbuatan yang disruptif, tanpa perlu menegur andai kata siswa mulai menampakan kecenderungan berbuat nakal, memindahkan tempat duduknya ke meja guru dapat berefek preventif.


2.      Teknik memberikan isyarat
            Apabila siswa berbuat penakalan kecil, guru dapat memberikan isyarat bahwa ia sedang diawasi isyarat tersebut dapat berupa petikan jari, pandangan tajam, atau lambaian tangan.
3.      Teknik mengadakan humor
            Jika insiden itu kecil, setidaknya guru memandang efek saja, dengan melihatnya secara humoristis, guru akan dapat mempertahankan suasana baik, serta memberikan peringatan kepada si pelanggar bahwa ia tahu tentang apa yang akan terjadi.
4.      Teknik tidak mengacuhkan
            Untuk menerapkan  cara ini guru harus lues dan tidak perlu menghukum setiap pelanggaran yang diketahuinya. Dalam kasus-kasus tertentu, tidak mengacuhkan kenakalan justru dapat membawa siswa untuk di perhatikan.
5.      Teknik yang keras
            Guru dapat menggunakan teknik-teknik yang keras apabila ia di hadapkan pada perilaku disruptif yang jelas tidak terkendalikan. Contohnya mengeluarkannya dalam kelas.
6.      Teknik mengadakan diskusi secara terbuka
            Bila kenakalan di kelas mulai bertambah, sering guru menjadi heran. ia lalu menilai kembali tindakan dan pengajarannya. untuk menjelaskan perbuatan-perbuaatan siswa-siswanya. Dan menciptakan suasana belajar yang sedikit lebih sesuai daripada sebelumnya.
7.      Teknik memberikan penjelasan tentang prosedur
            Kadang-kadang masalah kedisiplinan ada hubungannya yang langsung dengan ketidakmampuan siswa melaksanakan tugas yang diberikan kepadanya. Kesulitan ini terjadi apbila guru berasumsi bahwa siswa memiliki keterampilan, padahal sebenarnya tidak. masalah yang hampir sama yaitu masalah-masalah perilaku yang lazimnya berhubungan dengan peristiwa-peristiwa yang tidak biasa dikelas.
a.       Mengadakan analisis
      Kadang-kadang terjadi hampir terus menerus berbuat kenakalan, guru dapat mengetahui masalah yang akan di hadapinya dan mengurangi keresahan siswanya.
b.      Mengadakan perubahan kegiatan
      Apabila gangguan dikelas meningkat jumlahnya, tindakan yang harus segera di ambil yaitu mengubah apa yang sedang anda lakukan. Jika biasanya diskusi, maka ubahlah dengan memberikan ringkasan-ringkasan untuk dibaca atau menyuruh mereka membaca buku-buku pilihan mereka.

8.      Teknik menghimbau
            Kadang-kadang guru sering mengatakan, “harap tenang”. Ucapan tersebut adakalanya membawa hasil, siswa memperhatikannya. Tetapi apabila himbauan sering digunakan mereka cenderung untuk tidak menggubrisnya. Hal-hal yang harus di hindari :
a.       Campur tangan yang berlebihan
      Seperti guru menyela kegiatan yang asik berlangsung dengan komen atau petunjuk mendadak, maka kegiatan siswa akan terganggu atau terputus. Kesan guru tidak memperhatikan kebutuhan siswa, hanya memuaskan dirinya saja.



b.      Kelenyapan
      Terjadi jika guru gagal secara tepat melengkapi suatu intruksi penjelasan atau petunjuk, komentar. Kemudian menghentikan penjelasan atau sajian tanpa alas an yang jelas dan membiarkan pikiran anak mengawang-awang.
c.       Ketidaktepatan memulai dan mengakhiri kegiatan
      Terjadi jika guru memulai suatu aktivitas tanpa mengakhiri aktivitas sebelumnya.
d.      Penyimpangan
      Terjadi jika dalam kegiatan PBM guru terlalu asik dengan kegiatan tertentu seperti sibuk dengan tempat duduk yang tidak rapi atau cerita sesuatu yang tidak ada hubungan dengan materi terlalu jauh, sehingga kelancaran kegiatan di kelas terganggu.
e.       Bertele-tele
Terjadi jika pembicaraan guru bersifat :
1)      Mengulang-ulangi hal-hal tertentu
2)      Memperpanjang pelajaran atau penjelasan
3)      Mengubah teguran menjadi ocehan yang panjang
Hal ini merupakan hambatan kemajuan pelajaran atau aktivitas kelas. Siswa pada umumnya mencatat sebagai hal yang membosankan dan tidak mau terlibat dalam kegiatan di kelas.

f.       Pengulangan penjelasan yang tidak perlu
      Guru memberi petunjuk yang berulang-ulang secara tidak perlu membagi kelas dalam memberikan petunjuk atau secara terpisah memberi petunjuk ke setiap kelompok yang sebelumnya dapat diberikan secara bersama-sama kepada seluruh kelompok sekali saja di depan kelas.



DAFTAR PUSTAKA
Syaiful, Bahri, Djamarah. 2000. Guru dan Anak Didik Dalam Interaksi       Edukatif. Jakarta: Rineka Cipta.
Maman, Rachman. 1998. Manajemen Kelas. Jakarta: Departemen Pendidikan        dan Kebudayaan Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. 1982. Buku II: Modul Pengelolaan       Kelas. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Direktorat       Jenderal Pendidikan Tinggi, Proyek Pengembangan Institusi Pendidikan      Tinggi.
Rachman, Maman. 1998. Manajemen Kelas. Jakarta: Departemen Pendidikan        dan Kebudayaan Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi.
Majid, Abdul. 2005. Perencanaan pembelajaran. Bandung: Rosda Karya.
Popi, Sopiatin. 2010. Manajemen Belajar Berbasis Kepuasan Siswa. Cilegon:         Ghalia Indonesia.










Senin, 29 Juli 2019

TUGAS
MANAJEMEN KELAS DI SD
tentang :
“Manajemen Pembelajaran”




Oleh :
Yulastri Aroza
(1620142)
DOSEN PEBIMBING:
YESSI RIFMASARI, M. Pd

SEKOLAH TINGGI KEGURUAN ILMU PENDIDIKAN
STKIP ADZKIA PADANG
2019
KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis ucapkan kepada Allah SWT, yang telah memberikan kita berbagai nikamat, dan kesehatan. Sehingga penulis dapat menyelesaikan tugas “ Manajeme Pembelajaran”. Dan tidak lupa pula  penulis ucapkan kepada Nabi besar kita yakni Nabi Muhammad SAW yang telah membawa umat islam dari jenjang kekafiran hingga kejenjang keislaman seperti yang kita rasakan pada saat sekarang ini. Dan penulis juga mengucapkan terima kasih kepada semua semua pihak yang telah membatu dan mensuport untuk pembuatan makalah ini.
Penulis menyadari bahwa makalah ini sangat jauh dari kesempurnaan. Untuk itu, besar harapan penulis untuk saran dan kritikan yang membangun dari pembaca dan dosen pembimbing demi kesempurnaan makalah ini. Atas saran dan kritikan yang diberikan, penulis ucapkan terima kasih.


Padang, April 2019

Penulis






DAFTAR ISI
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI
BAB I PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
B. RUMUSAN MASALAH
C. TUJUAN PENULISAN

BAB II PEMBAHASAN
A. Konsep menajeman pembelajaran
B. Tujuan menajeman pembelajaran
C. Kebijakan tentang menajeman pembelajaran
D. Peran guru dalam menajeman pembelajaran
E. Kode etik guru

BAB III PENUTUP
A. KESIMPULAN
B. SARAN
DAFTAR PUSTAKA



BAB I
PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Manajemen Pembelajaran adalah segala usaha pengaturan proses belajar mengajar, dalam rangka tercapinya proses belajar mengar yang efektif dan efisien. pada dasarnya manajemen pembelajaran merupakan pengaturan semua kegiatan pembelajaran, baik kegiatan pembelajaran yang dikategirikan dalam kurikulum init dan penunjang .
dalam manajemen pembelajaran yang bertindak sebagai manjer adalah guru atau pendidik. Dengan demikian, pendidik memiliki wewenang dan tanggung jawab untuk melakukan beberapa langkah kegiatan manajemen yang meliputi merencanakan pembelajaran, mengorganisasikan pembelajaran, mengendalikan serta mengevaluasi pembelajara yang dilakukan.
Pada hakikatnya manajemen pembelajaran merupakan bagian penting dalam proses pembelajaran dan pendidikan. Sehingga dalam manajemen pembelajaranpun memiliki beberapa kegiatam dan hal pemtig untuk diperhatikan. Beberapa bagian terpenting dalam manajemen pembelajaran tersebut yaitu penciptaan lingkungan belajar dan meningatkan kedisplinan peserta didik.

B. Rumusan masalah
1. Apa yang dimaksud dengan konsep manajemen pembelajaran?
2. Apa tujuan manajemen pembelajaran?
3. Bagaimana kebijakan tentang manajemen pembelajaran?
4. Bagaimana peran guru dalam manejemen pembelajaran?
5. Apa kode etik guru?

C. Tujuan
1. Untuk mengetahui konsep manajemen pembelajaran
2. Untuk mengetahui tujuan manajemen pembelajaran
3. Untuk mengetahui kebijakan tentang manajemen pembelajaran
4. Untuk mengetahui peran guru dalam manejemen pembelajaran
5. Untuk mengetahui kode etik guru
















BAB II
PEMBAHASAN

A. KONSEP MANAJEMEN PEMBELAJARAN
Proses pembelajaran sangat terkait dengan berbagai komponen yang sangat kompleks. Antara komponen yang satu dengan komponen lainnya memiliki hubungan yang bersifat sistematik, maksudnya masingmasing komponen memiliki peranan sendiri-sendiri tetapi memiliki hubungan yang saling terkait. Masing-masing komponen dalam proses pembelajaran perlu dikelola secara baik. Tujuannya agar masing-masing komponen tersebut dapat dimanfaatkan secara optimal. Hal ini akan terwujud, jika guru sebagai desainer pembelajaran memiliki kompetensi manajemen pembelajaran.  Di dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia yang dikutip oleh Suharsimi Arikunto mengungkapkan bahwa manajemenadalah penyelenggaraan atau pengurusan agar sesuatu yang dikelola dapat berjalan dengan lancar, efektif dan efisien1. Manajemen juga diartikan sebagai proses merencana, mengorganisasi, memimpin dan mengendalikan upaya organisasi dengan segala aspeknya agar tujuan organisasi tercapai secara efektif dan efisien2. Jadi, manajemen merupakan serangkaian proses yang dilaksanakan dalam sebuah kegiatan guna mencapai tujuan yang telah ditetapkan dan diharapkan. Banyak ahli yang memberikan definisi tentang manajemen yang dikutip oleh Dayat dalam Jurnal tentang pengantar teori Manajemen, diantaranya:
a. Harold Koontz & O’ Donnel dalam bukunya yang berjudul “Principles of Management” mengemukakan, “manajemen adalah berhubungan dengan pencapaian sesuatu tujuan yang dilakukan melalui dan dengan orang-orang lain”.
b. George R. Terry dalam buku dengan judul “Principles of Management” memberikan definisi: “manajemen adalah suatu proses yang membedakan atas perencanaan, pengorganisasian, penggerakkan pelaksanaan dan pengawasan, dengan memanfaatkan baik ilmu maupun seni, agar dapat menyelesaikan tujuan yang telah ditetapkan sebelumnya”.
c. G.R. Terri, manajemen diartikan sebagai proses yang khas yang terdiri atas perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan dan pengawasan yang dilakukan untuk menentukan dan usaha mencapai sasaransasaran dengan memanfaatkan sumber daya manusia dan sumber daya lainnya.
d. James A. F. Stoner, manajemen diartikan sebagai proses perencanaan, pengorganisasian, kepemimpinan, dan pengawasan upaya (usahausaha) anggota organisasi dan menggunakan semua sumber daya organisasi untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan.
e. Oei Liang Lie, manajemen adalah ilmu dan seni perencanaan pengorganisasian, pengarahan, pengkoordinasian dan pengawasan sumber daya manusia dan alam, terutama sumber daya manusia untuk mencapai tujuan yang telah ditentukan

Berdasarkan beberapa pendapat para ahli di atas, maka manajemen dapat diartikan sebagai aktivitas memadukan sumber-sumber pendidikan, agar terpusat dalam usaha mencapai tujuan pendidikan yang telah ditentukan sebelumnya. Disamping itu, manajemen bertugas memadukan sumber-sumber pendidikan secara keseluruhan dan mengontrol/mengawas agar tepat dengan tujuan pendidikan yang melibatkan fungsi-fungsi pokok manajemen.
Menurut Gagne sebagaimana yang dikemukakan oleh Margaret E. Bell Gredler bahwa istilah pembelajarandapat diartikan sebagai “ seperangkat acara peristiwa eksternal yang dirancang untuk mendukung terjadinya proses belajar yang sifatnya internal “. Pengertian ini mengisyaratkan bahwa pembelajaran merupakan proses yang sengaja direncanakan dan dirancang sedemikian rupa dalam rangka memberikan bantuan bagi terjadinya proses belajar.  Pendapat semakna dengan definisi diatas dikemukakan oleh J. Drost yang menyatakan bahwa pembelajaran merupakan usaha yang dilakukan untuk menjadikan orang lain belajar. Sedangkan Mulkan memahami pembelajaran sebagai suatu aktivitas guna menciptakan kreatifitas peserta didik.4 Berdasarkan berbagai pendapat tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa pembelajaran adalah serangkaian kegiatan yang di usahakan dalam rangka agar orang dapat melakukan aktivitas belajar dengan harapan mewujudkan tujuan pembelajaran. Setelah mengetahui masing-masing pengertian dari manajemen dan pembelajaran, selanjutnya manajemen pembelajaran artinya yaitu suatu usaha untuk mengelola sumber daya yang digunakan dalam pembelajaran, sehingga tujuan pembelajaran dapat dicapai secara efektif dan efisien.Manajemen pembelajaran juga merupakan suatu usaha dan kegiatan yang meliputi pengaturan seperangkat program pengalaman belajar yang disusun untuk mengembangkan kemampuan peserta didik sesuai dengan tujuan organisasi atau sekolah.
Berdasarkan pendapat diatas dapat disimpulkan bahwa manajemen pembelajaran adalah proses pengelolaan dalam kegiatan belajar mengajar yang dimulai dari proses perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, pengendalian dan penilaian dalamrangka mencapai tujuan pendidikan. Manajemen pembelajaran memiliki arti penting dalam sebuah proses pendidikan., dimana dengan adanya manajemen dalam sebuah proses pembelajaran diharapkan tujuan pembelajaran akan terpenuhi, sehingga langkah-langkah dalam proses pembelajaran yang dimulai dari perencanaan hingga evaluasi mampu mewujudkan pencapaian tujuan pembelajaran pada umumnya dan efektivitas belajar bagi peserta didik pada khususnya. Karena dengan manajemen pembelajaran yang baik tentunya juga akan berdampak pada kegiatan pembelajaran yang terarah dan mampu menciptakan kondisi pembelajaran yang optimal
B. TUJUAN MANAJEMEN PEBELAJARAN
Tujuan manajemen pendidikan erat sekali dengan tujuan pendidikan secara umum, karen manajemen pendidikan pada hakikatnya merupakan alat untuk mencapai tujuan pendidikan secara optimal. Apabila dikaitkan dengan pengertian manajemen pendidikan pada hakikatnya merupakan alat mencapai tujuan. Adapun tujuan pendidikan nasional yaitu untuk mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.
Tujuan pokok mempelajari manajemen pembelajaran adalah untuk memperoleh cara, teknik dan metode yang sebaik-baiknya dilakukan, sehingga sumber-sumber yang sangat terbatas seperti tenaga, dana, fasilitas, material maupun spiritual guna mencapai tujuan pembelajaran secara efektif dan efisien.
Nanang Fattah berpendapat bahwa:
Tujuan ini tidak tunggal bahkan jamak atau rangkap, seperti peningkatan mutu pendidikan/lulusanya, keuntungan/profit yang tinggi, pemenuhan kesempatan kerja membangun daera/nasional, tanggung jawab sosial. Tujuan-tujuan ini ditentukan berdasarkan penataan dan pengkajian terhadap situasi dan kondisi organisasi, seperti kekuatan dan kelemahan, peluang dan ancaman.
Secara rinci tujuan manajemen pendidikan antara lain:
1. Terwujudnya suasana belajar dan proses pembelajaran yang aktif, inovatif, kreatif, efektif, dan menyenangkan (PAIKEM).
2. Terciptanya peserta didik yang aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia ketrampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.
3. Tercapainya tujuan pendidikan secara efektif dan efisien.
4. Terbekalinya tenaga pendidikan dengan teori tentang proses dan tugas administrasi pendidikan.
5. Teratasinya masalah mutu pendidikan

C. KEBIJAKAN TENTANG MANAJEMEN PEMBELAJARAN
Anjuran-anjuran dan saran-saran dalam menerapkan manajemen pembelajaran menyatakan sebuah asumsi bahwa guru dan para siswa berfungsi sebagai sebuah unit yang relatif kecil dan mandiri. Para guru harus secara mandiri menciptakan sebuah lingkungan pembelajaran dan harus secara mandiri pula menyelesaikan masalah apapun yang mungkin muncul. Meskipun demikian, beberapa ahli pendidikan telah menciptakan sistem-sistem pembelajaran yang sangat baik dengan mengkoordinasikan pengaruhpengaruh yang diciptakan oleh para guru dan siswa. Sistem Pembelajaran lain yang digunakan dalam manajemen pembelajaran tersebut ada dua, yaitu: 1) Sistem Pembelajaran Pribadi Sistem Pembelajaran Pribadi (SIP) juga disebut dengan perencanaan Keller, psikolog yang pertama kali memperkenalkannya sebagai metode kuliyah diberbagai universitas. Perencanaan Keller bergantung pada pembagian proses pembelajaran kedalam beberapa unit pelajaran, yang masingmasing akan dipelajari oleh siswa dan dimana mereka mendapatkan tes terhadap masing-masing unit pelajaran tersebut. Para siswa menjalani masing-masing unit dan tes pelajaran tersebut berdasarkan pada kemampuan mereka masing-masing. Kegagalan dalam mencapai sebuah standar prestasi yang dapat diterima tidak serta merta menjadi hukuman bagi para siswa, mengingat mereka berhak untuk kembali mendapatkan tes setelah mereka mengulangi pembelajaran mereka dan setelah mereka mendapatkan bantuan khusus menyangkut unit pelajaran tersebut. Perencanaan Keller memanfaatkan siswa-siswa yang sudah menguasai unit pelajarannya untuk membantu siswa-siswa lain dalam mengatasi berbagai masalah serta pertanyaan menyangkut unit pelajaran dan untuk memeriksa hasil ujian. Para asisten guru (murid) ini juga menganjurkan pembelajaran, baik secara langsung melalui penguat positif, maupun secara tidak langsung melalui keteladanan yang bisa dicontoh oleh siswa-siswa lain. Sistem Pembelajaran Pribadi (SIP) hanya akan berhasil dengan mengkombinasikan usaha-usaha dari semua individu dan analisa terhadap materi pelajaran 2) Pembelajaran Sesuai kebutuhan Individu Pembelajaran Sesuai kebutuhan Individu (ISKI) terkadang juga disebut dengan pendidikan adaptif. ISKI bergantung pada upaya menganalisa sebuah kurikulum kedalam unit-unit atau tujuan-tujuan pembelajaranonal yang spesifik. Pendidikan adaptif ini dinyatakan dalam istilah teori perilaku sebagai sebuah implementasi yang mudah dan sebagai sebuah evaluasi yang jelas terhadap keberhasilan siswa.
Para guru menggunakan aktifitas-aktifitas ISKI bagi para siswa sesuai dengan kebutuhan para siswa tersebut. Karenanya, siswa-siswa secara individu, tidak serta merta harus mengikuti beberapa pelajaran sebagaimana yang diharuskan dalam beberapa kurikulum. ISKI membutuhkan sejumlah besar perencanaan pembelajaranonal agar bisa bekerja lebih efektif.

D. PERAN GURU DALAM MANAJEMEN KELAS
Salah satu tugas guru sebagai pendidik di sekolah adalah sebagai menajer. Seorang guru harus mampu memimpin kelasnya agar tercipta pembelajaran yang optimal. Fasilitas dan kondisi kelas merupakan salah satu factor yang mempengaruhi hasil belajar siswa. Menurut Padmono (2011, 23) fasilitas kelas (instrumental in put) berkaitan erat dengan terciptanya lingkungan belajar (environmental in put) kondusif sehingga murid dengan senang dan sukarela belajar. Penataan fasilitas dapat menjadi pendorong jika diorganisir secara baik. Di sinilah peran guru SD dapat terlihat, adapun peran guru dalam memenej kelas agar tercipta pembelajaran yang efektif sebagai berikut:
1. Peran guru dalam pengorganisasian kelas
Organisasi kelas yang tepat akan mendorong terciptanya kondisi belajar yang kondusif. Pengorganisasian kelas ini pada dasarnya bersifat lokal, artinya organisasi kelas tergantung guru, kelas, murid, lingkungan kelas, besar ruangan, penerangan, suhu, dan sebagainya. Kita ketahui pada saat ini penataan kelas secara tradisional yang menempatkan satu meja guru berhadapan dengan meja kursi siswa. Kelas yang ditata secara tradisional tersebut menempatkan guru sebagai pusat kegiatan dan sentra perhatian murid tampak sebagai objek pengajaran bukan sebagai subjek yang belajar. Akibatnya aktivitas sebagian besar dilakukan guru sedang murid hanya pasif menerima.

2. Peran guru dalam pengaturan tempat duduk
Penataan kelas sebagaimana diuraikan pada pengorganisasian kelas ditata fleksibel yang mudah diubah sesuai pembelajaran yang akan dikembangkan guru. Penataan tempat duduk dapat berbentuk:
a. Seating chart
Penempatan murid dalam kelas dibuat suatu denah yang pada satu periode waktu tertentu dapat diubah sesuai tuntunan pembelajaran yang sedang dikembangkan oleh guru, sehingga perkembangan dan pertumbuhan murid tidak terganggu. Penataan tempat duduk yang didesain dalam chart dapat digambar sendiri oleh murid atau sekelompok murid secara bergilir, sehingga keterbatasan penataan tempat duduk secara tradisional ini dapat diminimalkan pengaruh buruknya. Penataan dan gambar desain dilaksanakan secara bergilir, sehingga setiap kelompok mempu menuangkan idenya dan mengembangkan iklim demokrasi di kelasnya, sehingga sikap menghargai pendapat orang lain dengan menghilangkan pandangan mereka sendiri.
b. Melingkar
Model duduk seperti ini dapat digunakan guru dalam pembelajaran diskusi kelompok, sehingga ada modifikasi untuk menghilangkan kejenuhan siswa.
c. Tapal kuda
Model ini sesuai untuk melaksanakan diskusi kelas yang dipimpin oleh guru atau ketua diskusi yang dipilih siswa. Diskusi kelas akan meningkatkan keberanian dibanding keberanian yang hanya muncul pada kelompok kecil.

3. Peran guru dalam pengaturan alat-alat pelajaran
Alat-alat pelajaran dapat klasifikasikan menjadi beberapa kelompok, antara lain: Menurut kedudukannya; alat pelajaran dibedakan atas permanen dan tidak permanen. Permanen jika alat pelajaran tersebut diletakkan di kelas secara terus menerus, misalnya: listrik, papan tulis, dan sebagainya. Alat pelajaran tidak permanen atau yang bergerak (movable) yaitu alat pelajaran yang dapat dipindah, misalnya: kursi, OHP, mesin-mesin, peta, dan sebagainya. Menurut fungsinya;
a. alat untuk menulis; kapur, papan tulis, pensil, dan lain-lain;
b. alat-alat lukis; jangka, meter, segitiga, buku. Alat-alat pelajaran tersebut tidak perlu disimpan ditempat khusus, tetapi cukup diatur di dalam kelas, sehingga bila sewaktu-waktu digunakan akan cepat.

4. Peran guru dalam pemeliharaan keindahan ruangan kelas
Motto yang menyatakan “bersih adalah sehat dan rapi adalah indah” merupakan hal yang tidak dapat dipungkiri. Setiap manusia memiliki cita rasa keindahan walaupun derajat keindahannya berbeda. Keindahan akan memberikan rasa nyaman dan membuat anak betah tinggal di tempat tersebut. Kelas yang diharapkan mengundang anak untuk betah berada di dalamnya hendaknya dijaga kebersihan dan keindahannya. Guru memiliki peran untuk mengorganisir siswanya agar dapat mendesain kelasnya menjadi kelas yang indah. Keindahan dapat dicapai dengan beberapa cara, yaitu:
a. menata ruangan menjadi rapi, misalnya; menata alat pelajaran sesuai kelompoknya, menata buku sesuai tinggi buku, tebal buku, dan kelompok buku, penataan alat pelajaran permanent yang sesuai dengan ruangan. Desain interior yang harmonis akan merangsang anak untuk tenggelam dalam suasana akademik (Immersion). Anak yang tenggelam dalam lautan ilmu pengetahuan akan mengalami pembelajaran secara alamiah, nyata, langsung, dan bermakna.
b. penataan meja guru, gambar-gambar merupakan factor pendukung tercapainya ruangan yang rapid an indah.

5. Cahaya, Ventilasi, Akustik dan Warna
Kelas yang terlalu terang atau terlalu gelap kurang mendukung pembelajaran. Anak SD berada pada tahap perkembangan yang menentukan, untuk itu menjaga kesehatan anak merupakan salah satu tugas managemen kelas oleh guru (Suharsimi Arikunto, 1989: 77). Kelas harus cukup memiliki ventilasi untuk pertukaran udara sehingga anak merasa sejuk dan nyaman tinggal di kelas. Guru sering kurang menyadari ruangan yang terang tetapi jendela tidak dibuka serta kurangnya ventilasi menjadikan suara guru bergema, akibatnya anak kurang mampu memusatkan perhatian pendengarannya pada suara guru, sebab terganggu oleh gema suara. Untuk itu disamping membuka jendela digunakan untuk pertukaran udara, maka juga berfungsi sebagai sarana untuk mengurangi gema. Warna disamping memiliki arti juga membawa kesan terhadap orang yang melihat. Dinding sekolah atau kelas berpengaruh terhadap siswa. Pemilihan warna sering tidak melibatkan guru apalagi murid, sehingga kadang guru sendiri tidak betah tinggal di kelasnya.

E. KODE ETIK GURU
1. Guru berbakti membimbing anak didik seutuhnya untuk membentuk manusia pembangunan yang ber-Pancasila.
2. Guru memiliki kejujuran profesional dalam menerapkan kurikulum sesuai dengan kebutuhan anak didik masing-masing.
3. Guru mengadakan komunikasi terutama dalam memperoleh informasi tentang anak didik, tetapi menghindari diri dari segala bentuk penyalahgunaan.
4. Guru menciptakan suasana kehidupan sekolah dan memelihara hubungan dengan orang tua murid sebaik-baiknya bagi kepentingan anak didik.
5. Guru memelihara hubungan baik dengan masyarakat di sekitar sekolahnya maupun masyarakat yang lebih luas untuk kepentingan pendidikan.
6. Guru secara sendiri-sendiri dan atau bersama-sama berusaha mengembangkan dan meningkatkan mutu profesinya.
7. Guru menciptakan dan memelihara hubungan antara sesama guru baik berdasarkan lingkungan kerja maupun di dalam hubungan keseluruhan.
8. Guru secara bersama-sama memelihara, membina dan meningkatkan mutu organisasi guru profesional sebagai sarana pengabdiannya.
9. Guru melaksanakan segala ketentuan yang merupakan kebijakan pemerintah dalam bidang pendidikan.









BAB III
PENUTUP

A. KESIMPULAN
manajemen dapat diartikan sebagai aktivitas memadukan sumber-sumber pendidikan, agar terpusat dalam usaha mencapai tujuan pendidikan yang telah ditentukan sebelumnya. Disamping itu, manajemen bertugas memadukan sumber-sumber pendidikan secara keseluruhan dan mengontrol/mengawas agar tepat dengan tujuan pendidikan yang melibatkan fungsi-fungsi pokok manajemen.
Tujuan manajemen pendidikan erat sekali dengan tujuan pendidikan secara umum, karen manajemen pendidikan pada hakikatnya merupakan alat untuk mencapai tujuan pendidikan secara optimal. Apabila dikaitkan dengan pengertian manajemen pendidikan pada hakikatnya merupakan alat mencapai tujuan.

B. SARAN
Semoga dengan tersusunnya makalah ini dapat menambah ilmu bagi pembacanya, meskipun kami menyadari bahwa pembuatan makalah ini masih banyak kekurangannya. Untuk itu kami mohon maaf dan mengharapkan saran dari pembaca.





DAFTAR RUJUKAN
Abdurrahman. (1994). Pengelolaan Pengajaran. Ujungpandang: Bintang Selatan.
Arikunto, S. (1989). Managemen Pengajaran Secara Manusiawi. Jakarta: Rineka Cipta.
Padmono, Y. (2011). Manajemen Kelas. Salatiga: Widyasari.
Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 19 tahun 2005 Tentang Standar Nasional Pendidikan.
Satori, D. (2008). Profesi Keguruan. Jakarta: Universitas Terbuka.
Undang-undang RI No. 14 Tahun 2005 Tentang Guru dan Dosen.
Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional No 20 tahun 2003.
Wibowo, T. (2012). Peran Guru dalam Pengelolaan Kelas (http://matadunia13.blogspot.com/2012/03/peran-guru-dalam-pengelolaan-kelas_15.html.teguh). Diakses pada 10 Juni 2012.